inilah aku dengan keadaanku
sekejap kau tatap langkahku
biarkan disana aku melayang
merasakan hangat bersama bayangan
hari yang tak bisa ku lewati
jantungku bergetar hebat dan berulang
cukup kali ini saja aku gila
Tuhan mungkin hari ini saja bersama bayanganya
Tentang Cinta
Sabtu, 25 Mei 2013
Rabu, 15 Mei 2013
kesal
Menyalahkan
jalanya keadaan
Menghapus
pagi menjelang siang
Kenangan
pahit dari pada racun
Teman
sejatiku hanyalah illahi
Semua
karna kau!
Kau tusuk jiwaku dengan tanganmu
Tak pernah kau balut tulang rasaku
Ku jahit sendiri sanubariku
Yang sampai kau robek tak berarti
Kini
tak benar ku benci
Namun
terkenang peristiwa luka jiwa dan ragu
Aku
mengenang tuk renungan Menyalahkan
jalanya keadaan
Menghapus
pagi menjelang siang
Kenangan
pahit dari pada racun
Teman
sejatiku hanyalah illahi
Semua
karna kau!
Kau tusuk jiwaku dengan tanganmu
Tak pernah kau balut tulang rasaku
Ku jahit sendiri sanubariku
Yang sampai kau robek tak berarti
Kini
tak benar ku benci
Namun
terkenang peristiwa luka jiwa dan ragu
Aku
mengenang tuk renungan Menyalahkan
jalanya keadaan
Menghapus
pagi menjelang siang
Kenangan
pahit dari pada racun
Teman
sejatiku hanyalah illahi
Semua
karna kau!
Kau tusuk jiwaku dengan tanganmu
Tak pernah kau balut tulang rasaku
Ku jahit sendiri sanubariku
Yang sampai kau robek tak berarti
Kini
tak benar ku benci
Namun
terkenang peristiwa luka jiwa dan ragu
Aku
mengenang tuk renungan Menyalahkan
jalanya keadaan
Menghapus
pagi menjelang siang
Kenangan
pahit dari pada racun
Teman
sejatiku hanyalah illahi
Semua
karna kau!
Kau tusuk jiwaku dengan tanganmu
Tak pernah kau balut tulang rasaku
Ku jahit sendiri sanubariku
Yang sampai kau robek tak berarti
Kini
tak benar ku benci
Namun
terkenang peristiwa luka jiwa dan ragu
Aku
mengenang tuk renungan
Selasa, 14 Mei 2013
kesal
Menyalahkan
jalanya keadaan
Menghapus
pagi menjelang siang
Kenangan
pahit dari pada racun
Teman
sejatiku hanyalah illahi
Semua
karna kau!
Kau tusuk jiwaku dengan tanganmu
Tak pernah kau balut tulang rasaku
Ku jahit sendiri sanubariku
Yang sampai kau robek tak berarti
Kini
tak benar ku benci
Namun
terkenang peristiwa luka jiwa dan ragu
Aku
mengenang tuk renungan Menyalahkan
jalanya keadaan
Menghapus
pagi menjelang siang
Kenangan
pahit dari pada racun
Teman
sejatiku hanyalah illahi
Semua
karna kau!
Kau tusuk jiwaku dengan tanganmu
Tak pernah kau balut tulang rasaku
Ku jahit sendiri sanubariku
Yang sampai kau robek tak berarti
Kini
tak benar ku benci
Namun
terkenang peristiwa luka jiwa dan ragu
Aku
mengenang tuk renungan Menyalahkan
jalanya keadaan
Menghapus
pagi menjelang siang
Kenangan
pahit dari pada racun
Teman
sejatiku hanyalah illahi
Semua
karna kau!
Kau tusuk jiwaku dengan tanganmu
Tak pernah kau balut tulang rasaku
Ku jahit sendiri sanubariku
Yang sampai kau robek tak berarti
Kini
tak benar ku benci
Namun
terkenang peristiwa luka jiwa dan ragu
Aku
mengenang tuk renungan Menyalahkan
jalanya keadaan
Menghapus
pagi menjelang siang
Kenangan
pahit dari pada racun
Teman
sejatiku hanyalah illahi
Semua
karna kau!
Kau tusuk jiwaku dengan tanganmu
Tak pernah kau balut tulang rasaku
Ku jahit sendiri sanubariku
Yang sampai kau robek tak berarti
Kini
tak benar ku benci
Namun
terkenang peristiwa luka jiwa dan ragu
Aku
mengenang tuk renungan
penanti
Pikiran
dimalamku melayang
Dentang
detik tak pasti dihari
Nyanyian
malam yang riang
Lantas
dimana kau rembulan?
Ku penanti jauh dan pencari
Melintasi surya kau kucari
Satu wanita dalam hati
Takan terganti oleh 1000 wanita
bidadari
Rembulan!
Kau
ruang hati dan puisiku
Kini
telah kau balut kesendirian
Namun kau rembulan jauh
Kau dimana?
Penanti telah mencari
BINTANG-BIDADARI
BINTANG-BIDADARI
By: Burhan BerMula
Malam
ini aku lukis suka-duka antara kita....
Dalam
melodi sepi memburu waktu....
Tingginya
bintang yang akan aku gantungkan...
Tertulis
indah nama bidadari disana....
Bintang
dan bidadari...
Hanya
ini yang aku sanjung disungging sunyi
Kapan
kau akan disini?
Membalut
luka menutup lubang rindu...
Kau
adalah bintang-bidadariku...
Yang
meski aku selimuti dengan ketabahan...
Kadang
hati murka harus memilih....
Dan
mulailah jiwa meradang,hingga tersayat...
Ku
biarkan luka ini menetes antara tali cinta...
Pasir
putih di luar sana menangis..
Menatapi,
aku mengalah dengan rotasi rekayasa...
Lingkaran
alam memudar,...
Aku
harus tetap disini menulis,menerbangkan topi juara
Bintang-bidadariku
Kau
adalah dua nama satu cinta...
Apakah
aku bodoh bimbang memilih kebebasan...
Hal
baru aku mengenalimu dalam malam yang hilang..
Secangkir
kopi yang berbisik menajamkan mata...
Disini
aku menunggu,terus bertanya lewat sajak palsu
Disitulah
kau ku puja dan kudoakan...
Ini
adalah jejak telaga kebahagiaan yang jauh,...
Perjuangan
yang panjang untuk bisa bertemu..
Kamu
lah pundi-pundi cinta aku kelak....
Bintang-bidadari...
Kau
adalah sinar harapan...
Jangan
kau hilang dan pergi.....
Aku
setengah sempurna punya jawaban terbaik..
Kau
alasan terindah aku mengejar mimpi..
Lihatlah
langkah dan ucapan indahku..
Ternyata
aku tak kuat jika kau tak ada...
Meski
selama ini kau(bidadariku) merenggut ini tak seijinku...
Bulan
....
Saksikanlah
aku memeluk bintang-bidadari...
Restui
aku menjemput,dan membelai wajahnya
Jangan
beri aku kesedihan dengan memisahkan kita
Bintang-bidadari
Ini
aku yang butuh cinta dan sayang....
Suara
manja yang memanggilmu nun disana..
Menunggu
jawaban belahan jiwa yang tulus,...
Berharap
bisa menua bersamanya....
Bintang-bidadari
Bersedialah
sejenak sampai aku menutup mata...
Agar
aku bisa mengheningkan kedamaian rasa,dan cinta
Keyakinan
yang takan ku jual..
Meski
di akhir kisah aku diami sudut sempit dan sunyi..
notes:
selasa 2012-08-14/21.09
Langganan:
Postingan (Atom)